Ini salah satu diskusi yang pernah saya baca, yaitu mengenai diskusi tentang “Misteri Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus”. Dialog ini dilakukan di Commonwealth Institute di London pada tahun 1979. Acara ini dihadiri oleh pakar-pakar, sarjana-sarjana terkemuka pada zaman itu. Bahkan Dalai Lama pun hadir pada saat itu. Dialog ini dilakukan dengan benar-benar tertib, bisa dibayangkan jika diskusi ini dilakukan pada saat ini, apa lagi kalau di Indonesia, pasti ruangan diskusi akan ramai dengan yel-yel dan teriakan-teriakan. Alih-alih saling sharing, saling menimba ilmu, malah jadinya adi otot, adu pengerahan massa.
Mengenai Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus ditiang salib ternyata ada tiga versi :
1. Nabi Isa Dinaikan ketiang salib kemudian mati di tiang Salib tersebut. Yang menurut orang Yahudi itu merupakan bukti kalau Nabi Isa/Yesus Kristus adalah nabi palsu. Karena menurut Taurat seorang Nabi palsu akan mati terbunuh. Maka orang Yahudi juga menolak kenabian Yahya/Yohanes karena menurut keimanan Kristen, Yohanes pembaptis mati dipenggal kepalanya oleh Herodes. Menurut orang Yahudi Yesus juga mendapat kematian terkutuk ditiang salib karena melakukan kebohongan besar dengan mengaku-ngaku sebagai putra Allah, raja orang Yahudi. Dalam kacamata iman Kristiani, pribadi Yesus yang unik ini dijabarkan beraneka ragam. Menurut iman Katholik dan sebagian Protestan (karena dari yang pernah gw baca dalam beberapa denominansi terdapat perbedaan konsep ketuhanan Yesus), Yesus merupakan putra Allah yang tunggal, sedangkan menurut Saksi-saksi Yehuwa adalah Ruh yang pertama kali diciptakan Tuhan, yang sebelumnya adalah perwujudan Michael yang merupakan Ark Angel disurga yang nantinya akan mewarisi kerajaan Allah di Didunia yang akan memimpin orang-orang beriman bersama orang-orang suci pilihan. Siapapun Yesus menurut setiap denominansi Kristiani, ia wafat di atas tiang salib untuk menebus dosa-dosa manusia yang terjerumus dalam dosa akibat Adam dan Hawa makan buah terlarang di Surga. Lalu Yesus dibangkitkan, kemudian di angkat kelangit / surga dan akan turun kembali di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia
2. Pendapat Kedua adalah Nabi Isa as tidak pernah naik ketiang salib, melainkan Yudas Iskariot yang mukanya dibuat mirip secara ajaib oleh Allah SWT dengan Nabi Isa as. Kemudian Nabi Isa di Angkat kelangit dan akan turun di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia.
3. Pendapat ketiga ini yang menarik menurut saya, Nabi Isa as / Yesus as memang dinaikan ketiang Salib, tetapi tidak mati melainkan hanya pingsan saja. Dan nabi Isa / Yesus as diam-diam keluar dari Judea kenegeri ditimur dan meninggal pada usia yang lanjut.
Tulisan ini bukan dengan maksud menyerang atau menyakiti keimanan siapapun.
Pada pendapat ini dipaparkan beberapa bukti pada Surat An Nisa:157 yang berkata “ dan karena ucapan mereka : sesungguhnya kami telah membunuh Almasih; Isa Putra Maryam; Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuh, tidak pula menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan atas Isa bagi mereka….…” ayat ini yang mendasari pemikiran muslim kebanyakan kalau sebenarnya Nabi Isa as sesungguhnya tidak dinaikan ketiang salib melainkan ada orang lain yang kemudian disimpulkan sebagai Yudas Iskariot. Tetapi dalam struktur bahasa Arab, jika kita telaah lagi (ini hasil penelitian beberapa pakar bahasa Arab) kalimat tersebut lebih tepatnya meiliki arti yang disamarkan / diserupakan disini adalah kejadiannya, disini adalah kejadian Nabi Isa dibunuh/disalib, karena yang menjadi Subjek kalimat ini adalah pernyataan Pembunuhan Isa disini. Kemudian kata disalib disini dalam bahasa arabnya adalah Fa yuslabun lebih tepat diartikan dibunuh dengan cara disalib, bukan dinaikan ketiang salib. Ini bisa kita lihat dalam surat Yunus dikatakan; “satu diantara kamu akan memberi minum khamar kepada Tuhannya, yang satu lagi akan disalib” (fa yuslabu). Dalam kamus Taj Al-rus dikatakan : Salib sendiri artinya adalah gajih. Dalam “sehah” dikatakan arti salib adalah sungsum, orang yang disalib dinamakan ‘maslub’ karena sungsumnya mengalir…(periksa Lane dan Aqrabul Mawarid). Jadi ayat ini lebih menjelaskan mengenai peristiwa kematian Nabi Isa as yang disamarkan atau disini nabi Isa as hanya pingsan saja ketika diturunkan dari tiang salib.
Kemudian ayat berikut “ ketika Allah berfirman ; ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku……. (Ali Imran 55). Dari kata “menyampaikan kamu pada ajalmu” disini jelas maksudnya bahwa Yesus akan wafat, tidak hidup dilangit, tetapi tidak wafat ditiang salib, melainkan secara wajar. Kemudian kata-kata dinaikan disini Lebih tepat jika ditafsirkan secara mutasabihat, mengingat dalam Alquran kata-kata diangkat atau pun diturunkan bukan merupakan makna secara harfiah. Misalnya, “kami menurunkan rizki”, tidak dapat diartikan sebagai rizki manusia turun dari langit, ataupun “Kami menurunkan pakaian kepadamu”, bukan berarti kita akan dapat mengartikan bahwa Allah menurunkan pakaian dari langit. Intinya, makna “dinaikan” tersebut tidak dapat dijabarkan secara fisika (Proses Naik adalah bergeraknya suatu benda yang memiliki masa dan kecepatan berlawanan arah dengan gaya gravitasi). Jadi disini makna diangkat tersebut lebih pada Nabi Isa yang pada saat itu hampir mati dalam keadan hina dengan disalib lalu oleh Allah diselamatkan, diangkat derajatnya dari keadaan kematian yg hina. Beberapa tafsir lain mengatakan makna diangkat disini adalah bentuk halus dari diwafatkan.
Seperti yang kita ketahui kejadian peyaliban bahkan kisah hidup Nabi Isa, tidak diterangkan secara rinci dalam Alquran. Maka disini diambil referensi dalam ke empat Injil yang diakui sebagai injil yang benar menurut gereja atau yang dikenal sebagai injil Apocalypta (Matius, Markus, Lukas dan Yahya/Yohanes) untuk menerangkan bagaimana sebenarnya yang terjadi pada saat itu.
Menurut pendapat ketiga tersebut. Nabi Isa/Yesus as ditangkap oleh pasukan Imam kafayas dikhianati oleh Yudas Iskariot. Pada saat dibawa kejudea untuk diadili, Pontius Pilatus pertama-tama menolak Yesus as sebagai orang yang bersalah. Bahkan usaha ini dilakukan oleh Pilatus dengan menawarkan pembebasan Tawanan. Orang-orang Yahudi pada saat itu ditawarkan utk memilih pembebasan antara Barabas yang merupakan tahanan Romawi pada saat itu karena merampok atau Yesus. Dan orang-orang Yahudi memilih untuk membebaskan Barabas pada saat. Tidak hanya berhenti disana, Pontius Pilatus masih berusaha utk membebaskan Yesus, namun para imam Yahudi pada saat itu menolak juga bahkan mereka mengancam Pilatus akan dilaporkan kepada Kaisar, karena orang-orang Yahudi mengatakan Yesus mengatakan dirinya adalah Raja orang Israel dengan demikian ia telah menentang Kaisar sebagai satu-satunya raja yang berkuasa, Maka dia dengan demikian menentang Kaisar dan hukumannya adalah mati. Jika Pilatus tidak menghukumnya maka dapat dilaporkan pada Kaisar Roma dan dapat dihukum. Oleh sebab itu Pilatus mencuci tangannya sambil berkata Aku suci dari darah orang yang benar ini. Disini yang perlu kita pahami bahwa menurut Pilatus, Yesus tidak bersalah. Kemudian dibuat keputusan bahwa (setelah Yesus ditahan) Yesus akan disalib pada hari Jumat pada tengah hari. Disini diduga pada saat itu Pontius Pilatus bersama Yusuf Arimatea bekerja sama untuk membebaskan Yesus dari Hukuman. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan hari penyaliban yang ditetapkan pada hari Jumat pada tengah hari, sementara beberapa saat kemudian sudah akan masuk hari Sabat. Pada hari Sabat tidak boleh ada tahanan yang digantung ditiang Salib. Dengan demikian Yesus hanya beberapa jam saja tergantung ditiang salib. Pada saat penyaliban Yesus berusia 33 tahun, secara medik usia Yesus masih tergolong muda jadi sangat tidak mungkin beliau mati sedemikian cepat, walaupun sebelumnya Yesus mengalami penyiksaan. Kemudian ketika sebelum Yesus tidak sadarkan diri diatas tiang salib beliau berteriak keras, kalau dalam Matius, Yesus berteriak “Eli, Eli, Lama Sabakhtani”. Ketika dikabarkan kepada Pilatus kalau Yesus telah meninggal pada saat itu, Pilatus heran dengan begitu cepatnya Yesus meninggal. Sesuai dengan penelitian medis mengenai penyaliban ini, biasanya proses kematian diatas tiang salib akan memakan maktu berhari-hari, apalagi untuk sesorang dalam usia Yesus yang masih belia pada saat itu. Bukti lain yang mengatakan kalau Yesus pada saat itu masih hidup adalah sebagaimana dikisahkan dalam Injil : “ hanyalah seorang laskar menikam, maka sekejap itu juga keluar darah dengan air” (Yohanes 19:34) perlu digaris bawahi disini yang keluar adalah Darah dan Air, disini terdapat bukti bahwa pada saat itu Yesus masih hidup, karena mayat tidak akan mengeluarkan Darah. Secara medik mayat yang baru meninggalpun hanya akan mengeluarkan darah dalam bentuk gumpalan-gumpalan. Karena keluarnya darah pada manusia yang masih hidup disebabkan oleh mekanisme jantung yang masih memompa darah keseluruh pembuluh darah. Kemudian yang menarik disini yang keluar bukan hanya darah tapi juga air. Biasanya jika orang tertusuk, yang keluar hanya darah. Dalam dunia kedokteran ada suatu symptom yang disebut Pleuresy. Ini adalah pembengkakan pada rongga dada dan ini biasa ditemukan pada korban-korban penyiksaan (kasus yang sering ditemukan pada tahanan yang disiksa). Mengingat Yesus juga dikisahkan disiksa sebelumnya, maka hal ini sangat logis terjadi pada Yesus. Dari hasil penelitian, kasus Yesus disebut Wet Pleuresy, disini pada rongga dada Yesus terjadi pembengkakan didalamnya. Dalam kasus ini Wet Pleuresy ini justru malah menyelamatkan nyawa Yesus ketika ditusuk oleh penghulu Laskar.
Kemudian ketika Yesus diturunkan dari tiang salib, tubuh Yesus diambil oleh Yusuf Arimatea, kemudian dibawa kepemakaman pribadinya. Kemudian diinjil dikisahkan Yesus di baluri berkati-kati Salep. Sesuai dengan penelitian, dalam kebudayaan Yahudi pada saat itu tidak dikenal pembalseman mayat. Jadi kuat dugaan kalau ramuan yang digunakan untuk menggobati luka-luka Yesus pada saat itu. Keberadaan ramuan tersebut dibuktikan dari penelitian Kain Kafan Turin, yang ditemukan sejenis tumbuh2an yang memang hanya tumbuh didaerah Yerusalem. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan juga bahwa tumbuh2an tersebut biasa digunakan sebagai bahan obat2an. Untuk detailnya silahkan tonton film dokumenter dari Discovey Chanel (kayanya sekarang ada DVD-nya) yang judulnya “Turin Shroud”. Dan yang menariknya lagi adalah reportnya Prof. Kurt Berna yang pada saat itu mengepalai penelitian kain kafan turin ini. Dari hasil penelitiannya Prof Kurt Berna menemukan bahwa orang yang dibaringkan didalam kain kafan tersebut tidak mati. Hal ini lah yang mendorong Paus Vatikan pada saat itu mengeluarkan pernyataan di L’Observatore Romanos mengenai Keselamatan umat manusia ditebus dari darah Yesus, jadi kematian Yesus tidaklah penting. Pada saat ini gereja-gereja Protestan dan beberapa denominansi gereja lainnya menolak keaslian kain kafan Turin tersebut sebagai kain Kafan Yesus.
Kemudian di Injil (Markus 16:1-8, Yohanes 10 : 1-2) dikisahkan, Maria, Maria Magdalena, dan Salome pada pagi-paginya dihari Minggu segera pergi kemakam tersebut. Ketika sampai disana mereka melihat batu penutup makam Yesus sudah bergeser kesamping dan makam Yesus sudah kosong. Dan ketika masuk kedalam mereka menemukan pemuda yang berpakaian serba putih (dalam kisah ini adalah Nikodemus). Dari cerita ini bisa dibayangkan kalau Makam tersebut cukup luas, dan berbentuk ruangan. Kemudian dari hasil penelitian, pada masa tersebut ada sebuah kelompok atau sekte yang bernama Essene. Ciri-ciri dari orang Essene adalah selalu mengenakan pakaian putih, bahkan Yusuf Arimatea adalah salah satunya. Perlu kita ingat Dead Sea Scroll (Gulungan Laut Mati) adalah salah satu dokumen peninggalan essene. Bahkan ada dugaan kalau Yesus dan Yohanes pembaptis juga salah seorang dari Essene ini.
Setelah itu Yesus diam-diam keluar dari Judea untuk menyelesaikan tugasnya mencari domba-domba Israel yang tersesat. Dari hasil penelitian juga, hanya 2 atau 3 suku dari 12 Suku-suku Israel yang tinggal di Yerusalem pada saat itu, yaitu Yehuda dan Lewi, ada yang mengatakan Suku Benjamoit juga ada disana. Tapi dari semua hasil penelitian tersebut sepakat, tidak lebih dari 3 Suku Israel yang Hidup di Jerusalem pada saat itu. Hasil riset menunjukan suku-suku Israel tersebut tersebar dari Jerusalem hingga ke Kashmir. Dari hasil riset tersebut ditemukan beberapa suku di sepanjang daerah tersebut yang memiliki kultur, adat serta kebiasaan yang mirip dengan orang-orang israil. Dan yang terpenting mereka menyebut diri mereka bani Israil, Putra Israil atau berbagai macam sebutan lainya (untuk detailnya silahkan baca: Andreas Faiber Kaiser, Yesus Wafat di Kashmir)
Didalam Injil terdapat beberapa pernyataan yang mendukung pendapat bahwa Yesus tidak wafat pada saat di salib, melainkan hanya pingsan saja antara lain dikisahkan dalam Injil bahwa setelah Yesus bangkit, kemudian Yesus muncul secara tiba-tiba didepan murid-muridnya kemudian dalam Lukas 24:36-40 meceritakan kepada kita lalu Yesus muncul dihadapan murid-muridnya, kemunculan tersebut membuat takut murid-murid beliau. Mereka mengira telah melihat hantu. Pada saat itu Yesus berkata kepada murid-muridnya untuk tidak takut karena yang mereka lihat bukanlah hantu, karena hantu tidak berdaging dan bertulang. Selain itu pada bagian lain dikisahkan yesus meminta makan kepada murid-muridnya, kemudian beliau makan ikan goreng. Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa Yesus masih memiliki kebutuhan jasmani pada saat itu. Jadi Yesus pada saat itu adalah Yesus yang hidup secara jasmaniah, bukan dalam bentuk roh. Selain itu didalam injil dikisahkan pasca penyaliban Yesus berusaha bersembunyi dengan bergerak keluar Judea pada malam hari. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan bagi kalangan sarjana teolog, karena di alkitab tidak dijelaskan mengapa Yesus harus bersusah panyah dengan cara sembunyi untuk berak keluar dari Judea. Jika dilihat dari konteks versi penyaliban ini, jelas Yesus harus berusaha menyembunyikan diri, karena jika beliau terlihat oleh orang-orang yahudi yang menginginkan kematiannya akan berusaha membuatnya kembali tertangkap dan keselamatannya pun akan terancam.
Nah, kemudian menurut versi ini Yesus melakukan perjalan untuk menyelesaikan misinya mencari domba-domba Israil yang tersesat. Beberapa hasil riset menunjukan adanya keterkaitan antara Sejarah Yesus dengan sang Budha. Diantaranya seorang pengembara dari Rusia yang bernama Notovich menemukan sebuah gulungan tua di Lamaserry (kediaman Dalai Lama) yang mengisahkan tentang kehidupan sesorang yang bernama San Issa Na, yang berasal dari suatu negri di Timur yang kemudian disalib lalu melakukan perjalanan kesana. Kisah San Issa Na ini, sangat unik, karena mirip sekali dengam kisah Yesus dalam Alkitab. (Lengkapnya baca : Andreas Faiber Kaiser).
Ada kata-kata Budha Gautama yang menarik disini. Budha Gautama mengatakan bahwa Budha berikutnya setelahnya akan datang dari suatu negeri di Timur, dan ia bergelar Masehi. Dari sini kita bisa melihat kalau setiap agama itu memiliki keterikatan yang erat satu sama lain. Mungkin pada setiap teritorial yang terdapat peradaban manusia, Tuhan akan mengirim setiap utusanya kemuka bumi untuk membimbing manusia dalam menjalani kehidupanya sebagai manusia, sesuai dengan Alquran, “dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Ia mengutus seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka…….” (Alqashash: 59).
Recent Comments