Pada kenyataannya kepercayaan kebanyakan orang adalah kepercayaan orang tuanya. hanya segelintir orang di dunia ini yang benar2 mencari kebenaran utk kepercayaan yang akan dia anut. Dengan demikian “life after death” bagi kebanyakan orang tidak lebih dari “life great gamble”. Kalau kepercayaan orang tua yang mereka ikuti dengan “Taklid” adalah kepercayaan yang benar maka mereka cukup beruntung di kehidupan setelah kematian mereka kelak. Tetapi kalau tidak, mereka berada diantara orang2 yang bernasib naas.
Dengan stereotip seperti ini, jadinya cukup aneh kalo orang-orang bisa bertindak sebagai hakim dalam kepercayaan orang lain. Seolah-olah dia adalah perpanjangan tangan Tuhan, pemegang kebenaran hakiki..sehingga dia merasa memilki Hak utk mengadili kepercayaan orang lain yang dia anggap menyimpang.
Klaim kebenaran seperti ini bervariasi, dari yang paling ekstreem dengan menyatakan darah seseorang halal utk ditumpahkan karena dianggap telah menyimpang dari “jalan kebenaran” yang ia klaim sampai hanya dengan menyatakan seseorang adalah sesat dan berusaha mengajaknya utk pindah ke keyakinan yg ia klaim sebagai suatu keyakinan yg benar, tanpa memberi pemahaman dengan pendekatan yg logis dan penuh kesabaran, hal ini bahkan juga terjadi pada mereka yang mengklaim dirinya sebagai orang yg tidak menyukai kekerasan dalam beragama.
Padahal berapa banyak diantara kita yang benar2 mencari kebenaran tersebut? toh kembali pada kenyataanya, sebagian besar dari kita hanya mengikuti arus utama kehidupan kita, karena orang tua kita mempercayai kepercayaan tertentu, lalu kita mengikutinya..Tuhan yang kita kenal juga adalah Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua kita kepada kita..
Mungkin disini kita harus bertanya kembali kepada diri kita..Apakah kita adalah para pencinta kebenaran?sehingga sepanjang kehidupan kita adalah usaha untuk mencari kebenaran tersebut?
Isu gender, bagi kaum feminist ini adalah perjuangan panjang bahkan di era modern seperti sekarang. Sangat sering isu ini bersinggungan dengan isu teologis. Sejarah mencatat, bahkan didaratan Eropa dimana saat ini ide kesataraan dalam banyak hal mendapat tempat yang baik, dimana pada awal masa renaissance pembunuhan 5 juta wanita terjadi atau literatur sejarah yang tercatat sekitar 12,545 yang tercatat karena melalui persidangan yang di formalkan oleh Pope John XXII pada th 1320. Hanya karena tuduhan sebagai seorang Tukang Sihir. Dalam beberapa tulisan, Michael Baigant dan Novel Dan Brown dikatakan Wanita-wanita yang dibunuh tersebut adalah mereka-mereka yang memilki pengetahuan dlm bidang kedokteran, kimia dan lain-lain. Secara teologis dalam perjanjian lama dikatakan bahwa wanita menanggung dosa warisan yang lebih besar dari pada kaum pria, karena Hawa yang membujuk Adam untuk memakan buah terlarang sehingga Adam dan Hawa terusir dari Surga.
Islam adalah agama yang paling sering diidentikkan sebagai agama yang paling tidak menghargai kaum wanita dalam hal ini. Ini juga didukung dalam tradisinya, kaum muslimin menempatkan kaum wanita dalam posisi yang begitu memprihatinkan. Dan selalu berlindung dibalik alasan teologis yang menyatakan bahwa kaum laki-laki merupakan pemimpin bagi kaum wanita, yang dalam prakteknya lebih di implementasikan sebagai kaum lelaki merupakan penguasa bagi kaum wanita. Namun sebagai orang yang percaya terhadap ajaran Islam, maka disini saya mencoba mengesambingkan pemahaman bagi mengenai peran wanita dan pria dalam terminologi baku yang merupakan interpretasi para ulama di abad pertengahan, yang kita kenal sebagai tafsir baku yang harus dipercayai secara dogmatis.
Saya percaya Alquran memiliki banyak makna dalam setiap rangkaian kata-katanya. Manusia tidak akan hentinya akan menemukan rahasia-rahasia yang tersebunyi dibalik kalimat-kalimat yang termaktub didalam kitab suci ini. Maka dalam kaitan ini saya mempercayai Alquran merupakan kitab yang multi tafsir. sebagai mana Sayyidina Ali ra mengatakan kepada kaum khawarij : “Aquran adalah kitab yang telah sempurna, Namun Alguran meletakkan maknanya di pundak pembacanya”. Maka dalam hal ini setiap orang yang dengan sungguh2 dan mencintai kebenaran akan menemukan makrifat-makrifat kebenaran dalam tiap kata-katanya.
Kembali dalam terminologi Islam mengenai gender ini, jika kita lihat Alquran dalam Surah Annisa : 34 atau ayat 35 kalau Basmalah dihitung sebagai 1 ayat الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء (Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita), dalam hal ini pernyataan kata2 قَوَّامُونَ (kawwamuuna) disini apakah berarti pemimpin atau pelindung. karena kedua arti tersebut bisa digunakan, kemudian berikutnya dalam ayat yg sama juga disampaikan, “oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)”, jika kita melihat hal ini dalam konteks kaum laki2 merupakan pelindung bagi kaum wanita, maka kelebihan disni adalah kelebihan alamiah yg dimiliki oleh kaum laki2. sehingga dengan demikian dalam gender terdapat pembagian peran. Demikian juga halnya dalam mengurus rumah tangga, karena kelebihan yang dimiliki oleh kaum wanita, menjadi peran ibu juga dalam mengurus anak, tentu saja dalam konteks keluarga tersebut masih lengkap. Karena kaum wanita di bekali hati dengan kasih sayang yg jauh lebih besar dari kaum laki-laki. Sama halnya laki-laki di ciptakan dengan tenaga yang lebih besar dari kaum wanita sehingga menjadi perannya sebagai pelindung kaum wanita.
Terlepas dari perdebatan teologis mengenai permasalahan Gender dalam agama manapun ternyata isu gender ini memilki implikasi lain dalam pola kehidupan manusia saat ini. Keterbukaan pemikiran manusia era modern menjadikan kesepahaman dalam banyak hal untuk kesetaraan gender ini. Namun dilihat dari dampak lainnya, permasalahan pun muncul disini. Di negara-negara maju banyak wanita yg menolak utk mengurus anak pd hal -hal tertentu bahkan menolak memilki anak dengan alasan akan mengekang kebebasan meraka, karir mereka ataupun masa depan mereka. Akhirnya gambaran pernikahan bagi kaum wanita dinegara-negara maju lebih seperti penjara seumur hidup, yang membuat mereka harus membuang jauh-jauh impian mereka untuk berkarir atau meraih suatu cita-cita dalam kehidupan pernikahannya (mariage life). Makanya tidak jarang para Ibu-ibu muda di negara-negara maju meninggalkan bayinya begitu saja. Tuhan menciptakan manusia sama di hadapan-Nya. Pengertian ini memang memiliki persepektif yang berbeda2 dalam benak setiap orang. Namun dalam permasalahan keluarga dan anak ada hal-hal lain yang harus dilihat dengan bijaksana. Pada kenyataanya secara psikologis seorang Ibu dianugrahi kemampuan utk lebih memahami anak2 mereka dibanding seorang ayah. Dalam hal ini pran seorang Ibu menjadi begitu vital dalam perkembangan seorang anak yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh figur seirang ayah. Maka dalam suatu keluarga peran Ibu dalam Perkembangan dan pendidikan seorang anak menjadi sangat penting.
Tentu saja Permasalahan Isu Gender ini tidak hanya terbatas di permasalahan ini saja. Namun yang perlu diwaspadai, adalah ketika isu gender mulai bergeser sehingga lebih menjadi suatu persaingan gender untuk mendominasi gender yang lain. Sehingga tidak mengherankan ide kesetaraan gender malah mengancam kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh kaum wanita sendiri. Sehingga akhirnya lebih tepat dikatakan sebagai bias gender ketimbang kesetaraan gender.
Udah agak telat sih…tapi ngga apa lah.. sebenernya ini tulisan yang gw kirim ke Media Indonesia beberapa waktu yang lalu saat..bentrok besar-besaran antara mahasiswa dengan aparat waktu demo BBM..yah tulisan ini emang dimuat walaupun udah di edit sana-sini sampai-sampai gw juga udah ga mengenal lg tulisan ini…entah karena substansialnya yang ga cocok atau karena materinya yang gw tulis terlalu dangkal sehingga perlu proses pengeditan besar-besaran, atau mungkin aja dikhawatirkan tulisan gw ini akan menimbulkan kerusuhan dan instabilitas polotik negeri ini(????…tanda-tanda besar kepala?) yah mungkin juga karena gw nulisnya kepanjangan untuk satu artikel koran (walaupun gw udah men-cut tulisan itu jadi di bawah 6000 karakter).. tapi ya sudahlah…pihak redaksi pasti punya pertimbangan yang lebih bijaksana dari dugaan-dugaan tadi..
Kenapa tiba-tiba gw jadi ingat sama tulisan ini?karena dalam beberapa iklan – iklan yang berhubungan dengan sumpah pemuda yang merefleksikan kondisi pemuda Indonesia tercinta ini, kita bisa lihat kalo kaum muda (dimana gw jadi salah satu makhluknya) punya banyak prestasi, antara lain; Juara tawuran antar fakultas, juara tawuran antar universitas se jabodetabek, juara harapan I tawuran kelas umum se Jakarta Raya dan paling hebat adalah kemenangan gilang-gemilang tawuran dengan polisi ( dua set langsung)…heheh..
Ntah kenapa dari semua refleksi Sumpah Pemuda itu ko yang bisa dilihat para kaum muda dan juga sekarang jadi tren dikalangan mahasiswa segala sesuatu yang berbau keributan adalah hobi….apa ini pengaruh perubahan hormonal yang sudah terkontaminasi polusi?atau permasalahan kurangnya lahan bermain diperkotaan sehingga pemuda-pemuda sekarang (termasuk gw) jadi mengembangkan tawuran menjadi olahraga yang menyenangkan dan menyehatkan (tentu tidak termasuk kepala benjol dan bibir jontor habis dipukulin)
Tulisan gw ituyang gw kirimin aslinya seperti ini…
Gerakan Mahasiswa : Harus kah anarkis?
Oleh : Ahmad Mukhlis Firdaus
(Penulis Aktif di Tim Penyikapan Isu Nasional (TPIN) KM-ITB periode 2002-2003)
One of the great liabilities of history is that all too many people fail to remain awake through great periods of social change… Today, our very survival depends on our ability to stay awake, to adjust to new ideas, to remain vigilant and to face the challenge of change. (Dr. Martin Luther King)
Melihat aksi-aksi mahasiswa yang akhir-akhir ini berubah menjadi aksi-aksi anarkis, dan cenderung tidak simpatik, mungkin kita perlu meninjau kembali seperti apakah seharusnya Gerakan mahasiswa tersebut. Mungkinkah gerakan-gerakan mahasiswa sudah mencapai titik jenuh sehingga kehilangan arah dan tak ubahnya jadi rengekan anak-anak muda yang membutuhkan perhatian media akan aspirasi-aspirasinya?
Pergerakan mahasiswa sejatinya adalah gerakan moral. Sebuah gerakan moral merupakan gerakan reaksi terhadap suatu kondisi tertentu yang dianggap tidak ideal. Di sisi lain Mahasiswa selalu distigmakan sebagai agen peubah. Karena ia dianggap sebagai masyarakat intelektual yang masih murni. Idealisme yang murni selalu menjadi landasannya dalam bertindak dan bergerak. Walaupun pada kenyataannya ini tidak berlaku mutlak. Namun secara perbandingan, kita dapat dengan aman mengatakan bahwa mahasiswa sebagai salah satu element generasi muda jauh lebih idealis dan murni dalam melancarkan tindakan dan gerakan.
Dalam sejarah kehidupan Negara Republik Indonesia, gerakan-gerakan mahasiswa merupakan salah satu pelopor utama dalam perubahan. Gerakan-gerakan tersebut tercatat dalam sejarah kehidupan bangsa ini dimulai dari gerakan Perhimpoenan Indonesia di Belanda, yang didirikan pada 1922 oleh Mohammad Hatta, yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam, hingga gerakan penumbangan rezim orde lama dan mendirikan orde baru sampai gerakan Reformasi, bahkan sampai hari ini kita masih melihat setiap hari demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan berbagai macam aspirasi.
Gerakan-gerakan tersebut biasa juga disebut sebagai gerakan struktural, karena ditujukan untuk mengkritisi, menekan, bahkan menjatuhkan suatu rezim yang sedang berkuasa atau memerintah. Dengan kata lain gerakan-gerakan structural adalah gerakan yang berorientasi pada perubahan ditingkat kebijakan pemerintah (government policy) dan Struktur pemerintahan yang dianggap tidak mampu menjalankan fungsinya (Structural Change).
Melihat fenomena gerakan struktural yang dilakukan mahasiswa di negeri ini, kita dapat melihat semakin hari greakan-gerakan mahasiswa diera reformasi, dimana kebebasan berpendapat bisa kita dapatkan, semakin jauh dari realitas masyarakat. Pola gerakan mahasiswa selalu berubah orientasi. Mulai dengan orientasi materialistik, orientasi elitis, dan hingga berorientasi seporadis dan separatis. Kecenderungan ini kerap terlihat ketika mahasiswa bergerak dengan atas dasar simbolik dan patronik. Gerakan mahasiswa semakin lama semakin prematur, tak memiliki kontinuitas yang tinggi terhadap arah gerak dan perjuangannya.
Bahkan yang menyedihkan akhir-akhir ini adalah kita dapat melihat bagaimana gerakan-gerakan mahasiswa berubah menjadi gerakan yang tidak simpatik dari kacamata masyarakat. Mahasiswa yang seharusnya berdemonstrasi untuk membela kepentingan rakyat berubah menjadi komoditas politik dan bahkan menjadi menyeramkan. Begitu pentingnya publisitas gerakannya bisa tersorot oleh media sehingga menjadikan gerakan ini malah menjadi gerakan yang menghalalkan segala cara agar menjadi headline berita keesokan harinya. Mungkin kita harus melihat kembali apa yang terjadi di bangsa ini, sehingga mungkin kita dapat memahami fenomena gerakan mahasiswa yang cenderung menjadi anarkis akhir-akhir ini.
Sekilas realitas kondisi Bangsa
Lebih dari setengah Abad Bangsa ini berdiri akan tetapi Indonesia masih jauh dari cita-cita luhur proklamasinya, menjadi bangsa yang berdaulat, cerdas dan sejahtera. Demikian peliknya permasalahan bangsa ini dari masalah birokrasi di sistem pemerintahan hingga ke permasalahan moral penyelenggara Negara dan masalah, dari masalah ekonomi hingga masalah rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Setiap hari kita melihat potret kemiskinan ditayangkan dimedia massa. Indeks korupsi dinegara ini tetap saja tinggi, lembaga-lembaga dan Instansi pemeintah tidak ada yang bebas dari praktek ini, bahkan LSM pun tidak luput dari kecurigaan. Indeks kemiskinan sapai saat ini masih saja tinggi, tingkat pengangguran dari hari-kehari yang juga semakin meningkat, sementara angka penjualan barang-barang mewah tetap saja meningkat dari hari ke hari. Angka kriminalitas yang semakin tinggi justru melambungkan rating penyaran acara-acara kriminal di televisi. Maraknya tayangan sinetron-sinetron di televisi Indonesia yang menjual mimpi dengan menayangkan berbagai kemewahan hidup bersamaan dengan acara-acara infotainment yang juga mengekspose kesejahteraan artis-artis sinetron Indonesia. Penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negri di beritakan setiap hari, namun animo masyarakat untuk menjadi tenaga kerja di luar negri masih saja besar, sementara tidak ada solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Siapa yang dapat disalahkan dengan kondisi ini? Jika kita menyalahkan pemerintah, Pemerintah yang mana? Alih-alih kita dapat melacak akar permasalahannya dengan mencari siapa yang salah, kita malah terjebak dalam lingkaran setan saling menyalahkan.
Gerakan Kultural
Kembali pada gerakan mahasiswa, melihat kondisi tersebut maka mahasiswa perlu meninjau kembali gerakan-gerakanya. Bahkan sudah saatnya setiap elemen mahasiswa me reset kembali gerakan-gerakannya, yah, tentu saja jika gerakan mahasiswa tersebut memang merupakan gerakan moral yang mengharapkan perbaikan pada kondisi masyarakat.
Gerakan mahasiswa tidak berarti selalu harus gerakan yang berhadapan langsung vis-a-vis dengan suatu rezim yang berkuasa. Gerakan mahasiswa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada itu. Gerakan mahasiswa juga seharusnya menyentuh sisi kehidupan sosio-kultur masyarakat jika kita tetap berpegang pada stigma bahwa mahasiswa adalah agen peubah
Pergerakan Kultural merupakan gerakan yang terjun langsung ke masyarakat sehingga masyarakat akan jauh lebih berdaya atau kalau boleh dapat juga disebut dengan people power. Dengan demikian masyarakat diharapkan akan memilki haknya untuk lebih berdaulat. Memang ini bukan suatu hal yang mudah karena berhubungan dengan menyadarkan tiap-tiap individu di masyarakat untuk sadar akan hak-haknya sebagai warga negara, bahkan untuk sadar akan kekuatan mereka sebagai warga negara, merekalah yang menentukan arah bangsa ini. Hal ini yang dimaksud dengan people power. Bukankah Mao ze dong memulai revolusinya dengan pemberdayaan para petani di China? Dimulai dari gerakan kultural ini pada akhirnya tentu saja akan mempengaruhi sistem birokrasi pemerintah. Political will masyarakat yang cerdas tentu saja akan membuat pemerintah tidak dapat semena-mena dalam mengeluarkan kebijakannya. Pada intinya gerakan ini adalah gerakan yang bersifat bottom up.
Mungkin kita perlu meninjau kembali pemahaman kita mengenai aksi mahasiswa. Apakah aksi harus diinterpretasikan dengan demonstrasi yang represif? Seharusnya aksi mahasiswa juga meliputi model pembangunan masyarakat yang sistematis oleh mahasiswa. Dengan demikian diharapkan kita dapat melihat mahasiswa mampu menetukan arah pergerakan, model pergerakan ke masyarakat, alternatif solusi di berbagai bidang. Sehingga rekan-rekan mahasiswa tidak perlu frustasi lagi ketika aksi-aksi mereka tidak mendapat publisitas dimedia, dan terutama masyarakat tidak lagi dirugikan dengan aksi-aksi mahasiswa.
Agama-agama Abrahamic (Islam, Kristen dan Yahudi) mengklaim kalau hanya mereka lah yang merupakan agama yang berasal dari Tuhan atau sering sekali dikatakan sebagai Agama Samawi. Sementara agama lainnya adalah agama yang diciptakan dari pemikiran manusia atau biasa disebut dengan Agama Bumi. Dalam pemahamannya, agama Tuhan yang benar adalah apa-apa yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dari bangsa Israil. Hal ini kenudian akan menimbulkan suatu pertanyaan logis, kenapa Tuhan hanya menurunkan ajarannya melalui nabi-nabi dari bangsa Israil saja? ataupun juga dari bangsa Arab keturunan Ismail seperti yang dipercayai oleh ajaran Islam saja? Jawaban mereka rata-rata sama, Menurut para pemuka Agama-agama Abrahamic tersebut, bangsa Israil adalah bangsa terpilih oleh Tuhan.
Jawaban ini tentu saja tidak memuaskan bagi banyak pemikir yang kritis. Karena dengan demikian akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Jika Tuhan menurunkan Utusan-Utusan-Nya (Nabi-Nabi) hanya pada bangsa Israil saja, apa yang terjadi dengan bangsa-bangsa lain yang juga sudah ada jauh sebelum masa peradaban Bangsa Israil berdiri. Selain itu, pada kenyataannya peradaban Israil tidak lebih maju dibandingkan peradaban-peradaban lain pada masa yang sama.
Jauh sebelum masa sebelum masa kejayaan Nabi Sulaiman (yang merupakan satu-satunya sejarah peradaban bangsa Yahudi “yang katanya bangsa terpilih itu” yang dapat ditulis dengan tinta emas) bahkan jauh sebelum masa Nabi Musa mengajak kaum yahudi untuk melintasi Laut Merah dan exodus ke kanaan, bangsa -bangsa Indoaryan sudah memiliki peradaban yang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Peradaban China kuno sudah dikenal sejak zaman Fu Hsi (3322 SM), Peradaban Indus Valley (Hindustan) sudah dikenal sejak 3300–1700 SM yang kemudian berkembang. Peradaban Persia sudah dikenal dari (1700 SM). Peradaban-peradaban tersebut jauh lebih tua jika dibandingkan dengan peradaban bangsa Israil yang baru dibawa oleh Nabi Musa as ke palestina sekitar tahun 1250 SM. Jika memang kuasa Tuhan pada waktu itu hanya bekerja pada bangsa-bangsa Israil saja, lalu siapa yang menuntun bangsa-bangsa China, Hindustan dan Persia tersebut mencapai tingkatan peradaban yang sedemikian majunya? Disini kita akan dihadapkan pada dilema paradoksial dalam mencari jawaban pertanyaan tersebut.
Jika kita mempercayai bahwa hanya ajaran agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi Israili tersebut adalah ajaran yang benar, konsekuensinya kita akan menafikan peran Tuhan dalam perkembangan peradaban manusia. Dengan kata lain, suatu peradaban tersebut maju atau tidaknya, tidak tergantung pada percaya atau tidaknya suatu kaum atau bangsa terhadap Tuhan. Bahkan, jika kita menggunakan kategori maju atau tidaknya suatu peradaban adalah dari perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakatnya dalam perikehidupan (misalnya teknologi pertanian, teknologi pengolahan makanan, teknologi pengobatan dan lain-lainnya) serta tingkat kesejahteraan masyarakatnya atau yang lebih signifikan lagi kuat atau tidaknya suatu bangsa atau peradabannya dari sisi kemiliteran, maka kita akan menemukan banyak contoh dari peradaban-peradaban yang dianggap sebagai peradaban tidak ber Tuhan dalam perspektif agama-agama Abrahamic tadi jauh lebih maju dibandingkan bangsa Israil atau Yahudi sebagai bangsa dimana Nabi-nabi sebahagian besar diturunkan. Selain itu pandangan bangsa Israil adalah bangsa pilihan sehingga para nabi hanya diturunkan dari bangsa ini saja akan membuat lubang besar dalam logika kita, bagaimana mungkin bangsa Israil sebagai bangsa pilihan sementara sejarah bangsa Israil sebahagian besar adalah sejarah mencari Tanah. Selain dimasa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as bangsa Israil selalu dijajah dari suatu bangsa ketangan bangsa lainnya.
Hal inilah yang membuat saya berfikir mengenai kebenaran surah Alqasash: 59 yang mengatakan Bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum, suatu kota atau dapat juga dikatakan suatu peradaban sebelum Allah mengirim seorang utusan untuk mengajarkan kebenaran pada kaum tersebut. Ayat tersebut menyiratkan kepada kita bahwa peradaban manusia bisa berkembang adalah karena campur tangan Allah SWT, salah satunya adalah dengan mengirimkan utusannya. Dengan demikian setiap kepercayaan memiliki pertalian yang cukup erat satu sama lain. kita bisa melihat bagaimana kesamaan antara Dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu, agama Nabi Fu Hsi, Tao, Konghuchu dan agama kebudayaan China dengan malaikat-malaikat dalam kepercayaan agama-agama Abrahamic. Mungkin perihal menghormati para Dewa dengan umat Abrahamic yang berbeda. Tetapi, ada suatu sekte didalam Yahudi dan kristen yang begitu mengormati Malaikat Mikael atau Michael. Bahkan sampai melakukan pemujaan yang sama seperti pemujaan terhadap para Dewa-dewa dalam agama-agama Hindu, konghutchu, tao dan beberapa aliran budha. tapi pada kenyataannya agama-agama tersebut juga mengenal Tuhan yang tunggal, Tuhan yang Esa. Agama Hindu mengenal Brahman (bukan Brahma) sebagai Tuhan yang Maha Esa. Agama-agama China Kuno mengenal Tian. Sang Budha sering memuja shio Devta dalam prasasti-prasasti Raja Ashoka.
Bahkan ada hal unik selain Sang Budha Gautama yang meramalkan Budha berikutnya setelah beliau adalah sesorang yang bergelar Masehi, yang dalam “Misteri Kematian Yesus” sudah saya singgung, para ahli sejarah menemukan kemiripan Brahma yang merupakan manifestasi Tuhan atau Brahman dalam kepercayaan Hindu dengan Nabi Ibrahim dalam kepercayaan Islam, Kristen dan Yudaisme. Karena kalau sesorang yang bernama Ibrahim alias Abraham alias Brahma ini benar-benar pernah ada, mereka hidup pada masa yang sama yaitu sekitar 2500 tahun sebelum Masehi dan kemungkinan besar pada daerah yang sama. Hal ini yang membuat Para ahli sejarah berteori Kalau Brahma dan Ibrahim atau Abraham itu adalah orang yang sama.
Perbedaan-perbedaan sehingga menghasilkan agama-agama yang bermacam-macam tersebut diakibatkan distorsi peradaban, mengingat masa Nabi Ibrahim tersebut sudah berlalu lebih dari 3000 tahun sampai dimasa kita sekarang.
Pada akhirnya perbedaan setiap Agama adalah perbedaan perspektif sejarah, yah pertanyaannya adalah sejarah mana yang benar atau yang lebih mendekati kebenaran. Tentu saja hal ini bisa ditentukan dengan perkembangan pengetahuan, dengan riset dan penelitian, bukan dengan perang dan memaksa setiap orang untuk menerima kebenaran menurut diri kita sendiri..apa lagi sampai menghakimi kepercayaan orang lain..
Ini salah satu diskusi yang pernah saya baca, yaitu mengenai diskusi tentang “Misteri Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus”. Dialog ini dilakukan di Commonwealth Institute di London pada tahun 1979. Acara ini dihadiri oleh pakar-pakar, sarjana-sarjana terkemuka pada zaman itu. Bahkan Dalai Lama pun hadir pada saat itu. Dialog ini dilakukan dengan benar-benar tertib, bisa dibayangkan jika diskusi ini dilakukan pada saat ini, apa lagi kalau di Indonesia, pasti ruangan diskusi akan ramai dengan yel-yel dan teriakan-teriakan. Alih-alih saling sharing, saling menimba ilmu, malah jadinya adi otot, adu pengerahan massa.
Mengenai Kematian Nabi Isa/Yesus Kristus ditiang salib ternyata ada tiga versi :
1. Nabi Isa Dinaikan ketiang salib kemudian mati di tiang Salib tersebut. Yang menurut orang Yahudi itu merupakan bukti kalau Nabi Isa/Yesus Kristus adalah nabi palsu. Karena menurut Taurat seorang Nabi palsu akan mati terbunuh. Maka orang Yahudi juga menolak kenabian Yahya/Yohanes karena menurut keimanan Kristen, Yohanes pembaptis mati dipenggal kepalanya oleh Herodes. Menurut orang Yahudi Yesus juga mendapat kematian terkutuk ditiang salib karena melakukan kebohongan besar dengan mengaku-ngaku sebagai putra Allah, raja orang Yahudi. Dalam kacamata iman Kristiani, pribadi Yesus yang unik ini dijabarkan beraneka ragam. Menurut iman Katholik dan sebagian Protestan (karena dari yang pernah gw baca dalam beberapa denominansi terdapat perbedaan konsep ketuhanan Yesus), Yesus merupakan putra Allah yang tunggal, sedangkan menurut Saksi-saksi Yehuwa adalah Ruh yang pertama kali diciptakan Tuhan, yang sebelumnya adalah perwujudan Michael yang merupakan Ark Angel disurga yang nantinya akan mewarisi kerajaan Allah di Didunia yang akan memimpin orang-orang beriman bersama orang-orang suci pilihan. Siapapun Yesus menurut setiap denominansi Kristiani, ia wafat di atas tiang salib untuk menebus dosa-dosa manusia yang terjerumus dalam dosa akibat Adam dan Hawa makan buah terlarang di Surga. Lalu Yesus dibangkitkan, kemudian di angkat kelangit / surga dan akan turun kembali di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia
2. Pendapat Kedua adalah Nabi Isa as tidak pernah naik ketiang salib, melainkan Yudas Iskariot yang mukanya dibuat mirip secara ajaib oleh Allah SWT dengan Nabi Isa as. Kemudian Nabi Isa di Angkat kelangit dan akan turun di akhir zaman untuk menyelamatkan umat manusia.
3. Pendapat ketiga ini yang menarik menurut saya, Nabi Isa as / Yesus as memang dinaikan ketiang Salib, tetapi tidak mati melainkan hanya pingsan saja. Dan nabi Isa / Yesus as diam-diam keluar dari Judea kenegeri ditimur dan meninggal pada usia yang lanjut.
Tulisan ini bukan dengan maksud menyerang atau menyakiti keimanan siapapun.
Pada pendapat ini dipaparkan beberapa bukti pada Surat An Nisa:157 yang berkata “ dan karena ucapan mereka : sesungguhnya kami telah membunuh Almasih; Isa Putra Maryam; Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuh, tidak pula menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan atas Isa bagi mereka….…” ayat ini yang mendasari pemikiran muslim kebanyakan kalau sebenarnya Nabi Isa as sesungguhnya tidak dinaikan ketiang salib melainkan ada orang lain yang kemudian disimpulkan sebagai Yudas Iskariot. Tetapi dalam struktur bahasa Arab, jika kita telaah lagi (ini hasil penelitian beberapa pakar bahasa Arab) kalimat tersebut lebih tepatnya meiliki arti yang disamarkan / diserupakan disini adalah kejadiannya, disini adalah kejadian Nabi Isa dibunuh/disalib, karena yang menjadi Subjek kalimat ini adalah pernyataan Pembunuhan Isa disini. Kemudian kata disalib disini dalam bahasa arabnya adalah Fa yuslabun lebih tepat diartikan dibunuh dengan cara disalib, bukan dinaikan ketiang salib. Ini bisa kita lihat dalam surat Yunus dikatakan; “satu diantara kamu akan memberi minum khamar kepada Tuhannya, yang satu lagi akan disalib” (fa yuslabu). Dalam kamus Taj Al-rus dikatakan : Salib sendiri artinya adalah gajih. Dalam “sehah” dikatakan arti salib adalah sungsum, orang yang disalib dinamakan ‘maslub’ karena sungsumnya mengalir…(periksa Lane dan Aqrabul Mawarid). Jadi ayat ini lebih menjelaskan mengenai peristiwa kematian Nabi Isa as yang disamarkan atau disini nabi Isa as hanya pingsan saja ketika diturunkan dari tiang salib.
Kemudian ayat berikut “ ketika Allah berfirman ; ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku……. (Ali Imran 55). Dari kata “menyampaikan kamu pada ajalmu” disini jelas maksudnya bahwa Yesus akan wafat, tidak hidup dilangit, tetapi tidak wafat ditiang salib, melainkan secara wajar. Kemudian kata-kata dinaikan disini Lebih tepat jika ditafsirkan secara mutasabihat, mengingat dalam Alquran kata-kata diangkat atau pun diturunkan bukan merupakan makna secara harfiah. Misalnya, “kami menurunkan rizki”, tidak dapat diartikan sebagai rizki manusia turun dari langit, ataupun “Kami menurunkan pakaian kepadamu”, bukan berarti kita akan dapat mengartikan bahwa Allah menurunkan pakaian dari langit. Intinya, makna “dinaikan” tersebut tidak dapat dijabarkan secara fisika (Proses Naik adalah bergeraknya suatu benda yang memiliki masa dan kecepatan berlawanan arah dengan gaya gravitasi). Jadi disini makna diangkat tersebut lebih pada Nabi Isa yang pada saat itu hampir mati dalam keadan hina dengan disalib lalu oleh Allah diselamatkan, diangkat derajatnya dari keadaan kematian yg hina. Beberapa tafsir lain mengatakan makna diangkat disini adalah bentuk halus dari diwafatkan.
Seperti yang kita ketahui kejadian peyaliban bahkan kisah hidup Nabi Isa, tidak diterangkan secara rinci dalam Alquran. Maka disini diambil referensi dalam ke empat Injil yang diakui sebagai injil yang benar menurut gereja atau yang dikenal sebagai injil Apocalypta (Matius, Markus, Lukas dan Yahya/Yohanes) untuk menerangkan bagaimana sebenarnya yang terjadi pada saat itu.
Menurut pendapat ketiga tersebut. Nabi Isa/Yesus as ditangkap oleh pasukan Imam kafayas dikhianati oleh Yudas Iskariot. Pada saat dibawa kejudea untuk diadili, Pontius Pilatus pertama-tama menolak Yesus as sebagai orang yang bersalah. Bahkan usaha ini dilakukan oleh Pilatus dengan menawarkan pembebasan Tawanan. Orang-orang Yahudi pada saat itu ditawarkan utk memilih pembebasan antara Barabas yang merupakan tahanan Romawi pada saat itu karena merampok atau Yesus. Dan orang-orang Yahudi memilih untuk membebaskan Barabas pada saat. Tidak hanya berhenti disana, Pontius Pilatus masih berusaha utk membebaskan Yesus, namun para imam Yahudi pada saat itu menolak juga bahkan mereka mengancam Pilatus akan dilaporkan kepada Kaisar, karena orang-orang Yahudi mengatakan Yesus mengatakan dirinya adalah Raja orang Israel dengan demikian ia telah menentang Kaisar sebagai satu-satunya raja yang berkuasa, Maka dia dengan demikian menentang Kaisar dan hukumannya adalah mati. Jika Pilatus tidak menghukumnya maka dapat dilaporkan pada Kaisar Roma dan dapat dihukum. Oleh sebab itu Pilatus mencuci tangannya sambil berkata Aku suci dari darah orang yang benar ini. Disini yang perlu kita pahami bahwa menurut Pilatus, Yesus tidak bersalah. Kemudian dibuat keputusan bahwa (setelah Yesus ditahan) Yesus akan disalib pada hari Jumat pada tengah hari. Disini diduga pada saat itu Pontius Pilatus bersama Yusuf Arimatea bekerja sama untuk membebaskan Yesus dari Hukuman. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan hari penyaliban yang ditetapkan pada hari Jumat pada tengah hari, sementara beberapa saat kemudian sudah akan masuk hari Sabat. Pada hari Sabat tidak boleh ada tahanan yang digantung ditiang Salib. Dengan demikian Yesus hanya beberapa jam saja tergantung ditiang salib. Pada saat penyaliban Yesus berusia 33 tahun, secara medik usia Yesus masih tergolong muda jadi sangat tidak mungkin beliau mati sedemikian cepat, walaupun sebelumnya Yesus mengalami penyiksaan. Kemudian ketika sebelum Yesus tidak sadarkan diri diatas tiang salib beliau berteriak keras, kalau dalam Matius, Yesus berteriak “Eli, Eli, Lama Sabakhtani”. Ketika dikabarkan kepada Pilatus kalau Yesus telah meninggal pada saat itu, Pilatus heran dengan begitu cepatnya Yesus meninggal. Sesuai dengan penelitian medis mengenai penyaliban ini, biasanya proses kematian diatas tiang salib akan memakan maktu berhari-hari, apalagi untuk sesorang dalam usia Yesus yang masih belia pada saat itu. Bukti lain yang mengatakan kalau Yesus pada saat itu masih hidup adalah sebagaimana dikisahkan dalam Injil : “ hanyalah seorang laskar menikam, maka sekejap itu juga keluar darah dengan air” (Yohanes 19:34) perlu digaris bawahi disini yang keluar adalah Darah dan Air, disini terdapat bukti bahwa pada saat itu Yesus masih hidup, karena mayat tidak akan mengeluarkan Darah. Secara medik mayat yang baru meninggalpun hanya akan mengeluarkan darah dalam bentuk gumpalan-gumpalan. Karena keluarnya darah pada manusia yang masih hidup disebabkan oleh mekanisme jantung yang masih memompa darah keseluruh pembuluh darah. Kemudian yang menarik disini yang keluar bukan hanya darah tapi juga air. Biasanya jika orang tertusuk, yang keluar hanya darah. Dalam dunia kedokteran ada suatu symptom yang disebut Pleuresy. Ini adalah pembengkakan pada rongga dada dan ini biasa ditemukan pada korban-korban penyiksaan (kasus yang sering ditemukan pada tahanan yang disiksa). Mengingat Yesus juga dikisahkan disiksa sebelumnya, maka hal ini sangat logis terjadi pada Yesus. Dari hasil penelitian, kasus Yesus disebut Wet Pleuresy, disini pada rongga dada Yesus terjadi pembengkakan didalamnya. Dalam kasus ini Wet Pleuresy ini justru malah menyelamatkan nyawa Yesus ketika ditusuk oleh penghulu Laskar.
Kemudian ketika Yesus diturunkan dari tiang salib tubuh Yesus diambil oleh Yusuf Arimatea, kemudian dibawa kepemakaman pribadinya. Kemudian diinjil dikisahkan Yesus di baluri berkati-kati Salep. Sesuai dengan penelitian, dalam kebudayaan Yahudi pada saat itu tidak dikenal pembalseman mayat. Jadi kuat dugaan kalau ramuan yang digunakan untuk menggobati luka-luka Yesus pada saat itu. Keberadaan ramuan tersebut dibuktikan dari penelitian Kain Kafan Turin, yang ditemukan sejenis tumbuh2an yang memang hanya tumbuh didaerah Yerusalem. Dari hasil penelitian tersebut ditemukan juga bahwa tumbuh2an tersebut biasa digunakan sebagai bahan obat2an. Untuk detailnya silahkan tonton film dokumenter dari Discovey Chanel (kayanya sekarang ada DVD-nya) yang judulnya “Turin Shroud”. Dan yang menariknya lagi adalah reportnya Prof. Kurt Berna yang pada saat itu mengepalai penelitian kain kafan turin ini. Dari hasil penelitiannya Prof Kurt Berna menemukan bahwa orang yang dibaringkan didalam kain kafan tersebut tidak mati. Hal ini lah yang mendorong Paus Vatikan pada saat itu mengeluarkan pernyataan di L’Observatore Romanos mengenai Keselamatan umat manusia ditebus dari darah Yesus, jadi kematian Yesus tidaklah penting. Pada saat ini gereja-gereja Protestan dan beberapa denominansi gereja lainnya menolak keaslian kain kafan Turin tersebut sebagai kain Kafan Yesus.
Kemudian di Injil (Markus 16:1-8, Yohanes 10 : 1-2) dikisahkan, Maria, Maria Magdalena, dan Salome pada pagi-paginya dihari Minggu segera pergi kemakam tersebut. Ketika sampai disana mereka melihat batu penutup makam Yesus sudah bergeser kesamping dan makam Yesus sudah kosong. Dan ketika masuk kedalam mereka menemukan pemuda yang berpakaian serba putih (dalam kisah ini adalah Nikodemus). Dari cerita ini bisa dibayangkan kalau Makam tersebut cukup luas, dan berbentuk ruangan. Kemudian dari hasil penelitian, pada masa tersebut ada sebuah kelompok atau sekte yang bernama Essene. Ciri-ciri dari orang Essene adalah selalu mengenakan pakaian putih, bahkan Yusuf Arimatea adalah salah satunya. Perlu kita ingat Dead Sea Scroll (Gulungan Laut Mati) adalah salah satu dokumen peninggalan essene. Bahkan ada dugaan kalau Yesus dan Yohanes pembaptis juga salah seorang dari Essene ini.
Setelah itu Yesus diam-diam keluar dari Judea untuk menyelesaikan tugasnya mencari domba-domba Israel yang tersesat. Dari hasil penelitian juga, hanya 2 atau 3 suku dari 12 Suku-suku Israel yang tinggal di Yerusalem pada saat itu, yaitu Yehuda dan Lewi, ada yang mengatakan Suku Benjamoit juga ada disana. Tapi dari semua hasil penelitian tersebut sepakat, tidak lebih dari 3 Suku Israel yang Hidup di Jerusalem pada saat itu. Hasil riset menunjukan suku-suku Israel tersebut tersebar dari Jerusalem hingga ke Kashmir. Dari hasil riset tersebut ditemukan beberapa suku di sepanjang daerah tersebut yang memiliki kultur, adat serta kebiasaan yang mirip dengan orang-orang israil. Dan yang terpenting mereka menyebut diri mereka bani Israil, Putra Israil atau berbagai macam sebutan lainya (untuk detailnya silahkan baca: Andreas Faiber Kaiser, Yesus Wafat di Kashmir)
Didalam Injil terdapat beberapa pernyataan yang mendukung pendapat bahwa Yesus tidak wafat pada saat di salib, melainkan hanya pingsan saja antara lain dikisahkan dalam Injil bahwa setelah Yesus bangkit, kemudian Yesus muncul secara tiba-tiba didepan murid-muridnya kemudian dalam Lukas 24:36-40 meceritakan kepada kita lalu Yesus muncul dihadapan murid-muridnya, kemunculan tersebut membuat takut murid-murid beliau. Mereka mengira telah melihat hantu. Pada saat itu Yesus berkata kepada murid-muridnya untuk tidak takut karena yang mereka lihat bukanlah hantu, karena hantu tidak berdaging dan bertulang. Selain itu pada bagian lain dikisahkan yesus meminta makan kepada murid-muridnya, kemudian beliau makan ikan goreng. Dari kisah ini dapat kita lihat bahwa Yesus masih memiliki kebutuhan jasmani pada saat itu. Jadi Yesus pada saat itu adalah Yesus yang hidup secara jasmaniah, bukan dalam bentuk roh. Selain itu didalam injil dikisahkan pasca penyaliban Yesus berusaha bersembunyi dengan bergerak keluar Judea pada malam hari. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan bagi kalangan sarjana teolog, karena di alkitab tidak dijelaskan mengapa Yesus harus bersusah panyah dengan cara sembunyi untuk berak keluar dari Judea. Jika dilihat dari konteks versi penyaliban ini, jelas Yesus harus berusaha menyembunyikan diri, karena jika beliau terlihat oleh orang-orang yahudi yang menginginkan kematiannya akan berusaha membuatnya kembali tertangkap dan keselamatannya pun akan terancam.
Nah, kemudian menurut versi ini Yesus melakukan perjalan untuk menyelesaikan misinya mencari domba-domba Israil yang tersesat. Beberapa hasil riset menunjukan adanya keterkaitan antara Sejarah Yesus dengan sang Budha. Diantaranya seorang pengembara dari Rusia yang bernama Notovich menemukan sebuah gulungan tua di Lamaserry (kediaman Dalai Lama) yang mengisahkan tentang kehidupan sesorang yang bernama San Issa Na, yang berasal dari suatu negri di Timur yang kemudian disalib lalu melakukan perjalanan kesana. Kisah San Issa Na ini, sangat unik, karena mirip sekali dengam kisah Yesus dalam Alkitab. (Lengkapnya baca : Andreas Faiber Kaiser).
Ada kata-kata Budha Gautama yang menarik disini. Budha Gautama mengatakan bahwa Budha berikutnya setelahnya akan datang dari suatu negeri di Timur, dan ia bergelar Masehi. Dari sini kita bisa melihat kalau setiap agama itu memiliki keterikatan yang erat satu sama lain. Mungkin pada setiap teritorial yang terdapat peradaban manusia, Tuhan akan mengirim setiap utusanya kemuka bumi untuk membimbing manusia dalam menjalani kehidupanya sebagai manusia, sesuai dengan Alquran, “dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Ia mengutus seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka…….” (Alqashash: 59).
Memikirkan bagaimana manusia bisa menghakimi keyakinan orang lain berdasarkan apa yang diyakininya membuat saya jadi merenung…Sebenarnya apa yang salah sih dalam sebuah kepercayaan, sehingga membuat penganutnya menjadi merasa sebagai pemilik kebenaran itu sendiri…
Hal ini yang mungkin saja mengarahkan cara berfikir kita sebagai para penganut agama untuk membuat orang mau mempercayainya dengan “memaksa” mereka percaya berdasarkan hanya cara pandang kita saja. Padahal lebih dari 90 % dari kita menganut suatu agama adalah karena kita kebetulan dilahirkan orang tua yang menganut agama yang kita anut saat ini. Tidak ada satu diantara kita pernah bertemu dengan Tuhan yang kita yakini itu..lalu darimana kita bisa memastikan bahwa agama kita tersebut adalah agama yang paling benar?
Sebagai muslim saya meyakini bahwa agama islam adalah agama yang benar, walaupun banyak pertanyaan yang mengikuti “iman” saya ini. Tetapi kepercayaan saya ini seperti halnya kepercayaan yang lain ternyata tidak memberi banyak tempat untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para Ulama sering menekankan bahayanya jika terlalu banyak berpikir untuk urusan Iman ini…karena menurut mereka Agama harus diyakini dengan Iman jangan terlalu menggunakan Rasio…dan uniknya hal ini saya temukan pada banyak kepercayaan-keparcayaan lainya..
Pemikiran saya tetap saja berontak..tetap saja Rasio ini mau bersusah payah memikirkan mengenai iman dan Tuhan itu sendiri..
Sekelumit Pemikiran…..
Meyakini Tuhan itu adalah Maha Kuasa ternyata tidak semudah mengucapkanya…Ephicurus menyampaikan discursus pernyataan yang cukup mengganggu perasaan keimanan yang harusnya given ini
“Is [God] willing to prevent evil, but not able? then is he impotent. Is he able, but not willing? then is he malevolent. Is he both able and willing?”
Memikirkan ini saya akhirnya melihat ada dua sisi yang terbentuk secara diametral dalam proses meyakini Tuhan. Mungkin kita akan bermuara pada pemikiran bahwa Tuhan itu tidak ada, melainkan adalah cipataan manusia belaka. Seperti yang dikemukakan oleh para Ahli Sosiologi, agama berawal dari kekaguman manusia terhadap fenomena-fenomena alam yang tidak dapat ditemui jawaban terhadap fenomena tersebut. Ketika manusia melihat petir, ia akan memuja petir tersebut, kemudian dibuatlah tokoh-tokoh yang mengendalikan fenomena-fenomena tersebut..kemudian seiring dengan waktu, pemikiran manusia semakin maju sehingga ide monoteis pun mulai bermunculan..walaupun thesis ini pun akan mengantarkan kita pada banyak pertanyaan-pertanyaan lainya.
Atau ide lainnya, dan saya lebih menyukai sisi yang ini…ide lain tersebut meyakini bahwa Tuhan itu bekerjan pada setiap bangsa, pada setiap budaya.. Bahkan Tuhan sudah diperkenalkan pada manusia-manusia primitive dengan cara yang berbeda.. Jadi setiap agama berasal dari Tuhan yang esa, dari pemilik kebenaran yang hakiki. Baik itu Muslim, Kristen, Budha, Hindu, Zoroaster, Konghuchu, bahkan Agama Dewi Gaea yang dipercaya oleh orang Indian di Amerika-pun adalah berasal dari Tuhan yang sama. Kalau kita coba renungkan, tidak ada satupun agama yang mengajarkan kita pada keburukan, setiap agama mengajarkan penganutnya untuk berbuat baik. Semua agama melarang manusia utk membunuh, mencuri, merampok, berbohong, berzina dan lain-lainnya. Kalo mau pinjam kata-katanya Paolo Freire, agama itu memanusiakan manusia. Menuntun manusia menjalani hidup dengan lebih baik. Jadi terlalu egois ketika ada satu agama mengatakan dia satu-satu nya agama yang paling benar dimuka bumi sedangkan yang lain adalah salah. Atau kasarnya nih, mengatakan hanya agamanyalah yang merupakan agama dari Tuhan dan yang lainya adalah perbuatan jahil setan. Kalau kita pikirkan, jika agama-agama lain adalah agama buatan setan, maka apa mungkin setan mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Dalam alkitab juga didalam Alquran dikatakan setiap ajaran yang benar akan dipelihara oleh Allah dan dikatakan setiap ajaran-ajaran Nabi palsu akan dipatahkan. Jadi disini dapat dilihat suatu ajaran yang benar akan bertahan meskipun manusia berusaha menghancurkannya. Atau dengan kata lain, ada campur tangan wujud yang sama dalam menjaga ajaran-ajaran yang dapat menjadikan setiap manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Saya percaya, bahwa hanya ada satu Tuhan yang mengatur setiap segmen kehidupan dan setiap proses yang terjadi di alam semesta kita ini. Bagaimanapun kita menyebutnya, Tuhan, Allah, Bapa, Yahweh, Jehovah, Dewa, God, Is’ana, Shio Devta, Rabb..pada inti-nya itu merupakan wujud yang sama, nama tersebut lebih diakibatkan perbedaan dialek manusia, toh seperti yang kita tau, bahkan nama nabi-nabi pun memiliki cara-cara penyebutan yang berbeda2, misalnya Yahya, Yohannes, Yohannan, John atau Musa, Moses dan banyak lagi contoh-contoh lainnya, tapi maksudnya adalah orang yang sama.
Kalau tidak demikian, maka pertanyaan terbesarnya adalah: “Siapa yang bertanggung jawab terhadap timbulnya berbagai macam kekacauan dibumi ini pada sepanjang masa peradaban manusia yang diakibatkan peperangan yang mengatas-namakan agama?” Saya jadi ingat kata2nya A.N Wilson yang mengatakan “Agama adalah tragedi terbesar umat manusia, ia mengajarkan kita pada keluhuran yang paling tinggi, namun tidak ada satupun agama yang tidak bertanggung jawab terhadap peperangan yang terjadi pada manusia, karena atas nama agama manusia mau membunuh, manusia rela melakukan apa saja untuk sesuatu yang lebih besar, lebih luhur dan lebih tinggi darinya”. Atau, memang benar seperti yang dibilang sama Sigmund Freud, kalau agama hanyalah buatan manusia. Yang dibuat karena manusia butuh pegangan yang mengatur kehidupannya??
Recent Comments